Disetiap kesempatan selalu menunggu waktu yang pas untuk menulis sesuatu yg berguna buat teman teman semua. ada kata2 bijak sepert ini : When you get up early every morning, and work hard, you will have get more success. jadi penyakit malaaas harus kita kubur dalem2. semua tugas yang diamanatkan kpd kita (kaum perempuan) bisa dihandle dg baik. specialy about your children,,,about happiness and education for all lovely kids (maaf sok inggris kalau ada salah2 kata harap maklum hehe ^_^ lagi belajar juga, biar ngga kalah sama yang pada kursus ^_^).
ini ada sebuah tulisan dari pakar yang bisa kita ambil hikmahnya. biar anak2 kita tidak mengulangi kebodohan atau kesalahan dimasa lalu. semangaaat ^_^
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Setiap orangtua yang mendapatkan pertanyaan ini, cepat atau lambat akan
menjawab: “Anak bahagia.” Tapi, apakah benar anak pintar tak mesti
bahagia? Jawabannya, ya. Anak pintar belum tentu bahagia. Bahkan, anak
pintar yang tidak memiliki karakter-karakter tertentu, bisa diduga pasti
tidak bahagia. Anak bahagia belum tentu pintar. Anak yang memiliki
karakter-karakter tertentu, meski tidak pintar, diduga pasti bahagia.
Karakter-karakter itu terkait dengan kemampuan menghasilkan emosi-emosi
positif, yang biasa disebut dengan emotional intelligence (EI atau EQ).
Jangankan kebahagiaan, kesuksesan saja tak selalu ada hubungannya dengan kepintaran. Suatu penelitian di
Harvard
University, atas mahasiswa kedokteran, hukum, bisnis, dan keguruan
menunjukkan bahwa kesuksesan tak ada hubungannya sama sekali dengan
kepintaran—sebagaimana diukur dengan IQ.
Daniel Goleman menemukan:
“…
Kecerdasan emosional kita menentukan potensi kita untuk belajar
keterampilan praktis... Kompetensi emosional kita menunjukkan berapa
banyak potensi kita yang telah diaplikasikan menjadi kemampuan yang bisa
dipakai saat bekerja.” Clifton dan Rath percaya bahwa emosi positif
merupakan kebutuhan penting sehari-hari untuk kelangsungan hidup, dan
untuk hidup bahagia.
Tapi, jangan khawatir. Jika dibarengi
dengan kepemilikan karakter-karakter tertentu, kepintaran membantu
kebahagiaan. Orang pintar yang memiliki karakter-karakter tertentu itu
masih punya peluang bahagia lebih besar dibanding yang kurang pintar.
Masalahnya, mendorong anak untuk pintar, dengan cara-cara yang tidak bijaksana (
push parenting atau
push
teaching), bisa menyebabkan anak kehilangan peluang untuk memiliki
karakter-karakter yang mendukung kebahagiaan. Kenapa? Karena cara-cara
yang tidak bijaksana—menekan, menuntut secara berlebihan, membebani anak
dengan kegiatan belajar sehingga merampas waktu luang mereka—demi
mengejar kepintaran adalah bertentangan dengan cara-cara untuk
mengembangkan karakter yang mendukung kebahagiaan.
Menurut Daniel Goleman lagi, karakter-karakter itu adalah :
•
Self Control: Kemampuan untuk mengelola emosi dan impuls yang mengganggu, secara efektif.
•
Trustworthiness: Kejujuran dan integritas.
•
Conscientiousness: Keteguhan dan tanggung jawab dalam memenuhi kewajiban.
•
Adaptability: Fleksibilitas dalam menangani perubahan dan tantangan.
•
Innovation: Keterbukaan terhadap ide-ide, pendekatan, dan informasi baru.
Sedangkan menurut psikologi positif
(positive psychology), karakter-krakter itu adalah :
•
Wisdom
and Knowledge: Kreativitas, rasa ingin tahu, keterbukaan pikiran, cinta
belajar, kejernihan perspektif (dalam melihat segala hal), inovasi.
•
Courage: Keberanian, ketekunan, integritas, vitalitas.
•
Humanity: Cinta, kebaikan, kecerdasan sosial.
•
Justice: Kewarganegaraan, keadilan, kepemimpinan.
•
Temperance: Rasa maaf dan kemurahan hati, kerendahan hati, kebijaksanaan, kontrol diri.
•
Transcendence: Apresiasi terhadap keindahan dan keluhuran, rasa syukur, harapan, humor, spiritualitas.
Sayangnya,
terkadang kita harus memilih antara mendorong anak untuk pintar dan
mendorong anak untuk memiliki karakter-karakter yang dapat menentukan
kebahagiaan mereka. Kita memang perlu waktu banyak untuk menanamkan
karakter-karakter ini sampai ia menjadi habit. Lebih dari itu, proses
ini membutuhkan penciptaan suasana yang nyaman dan menenteramkan. Bukan
tekanan. Sudah pasti suasana seperti ini tak diperoleh dengan
terburu-buru dan pemaksaan. (Sampai di sini kita ingat beban kurikulum
di sekolah-sekolah kita yang amat tidak proporsional, dan berbagai jenis
penilaian/tes yang tidak tepat-guna).
Tak kalah pentingnya, kita juga perlu memastikan
self
esteem (harga diri) anak agar terus terpelihara. Hak ini merupakan
syarat utama, bahkan bagian dari tujuan pendidikan untuk menanamkan
karakter-karakter ini. Studi dari Dr. Elizabeth Hurlock menunjukkan
pentingnya menerapkan psikologi positif—sebuah aliran psikologi yang
percaya bahwa semua manusia berbakat baik dan bahagia—di sekolah dan
keluarga. Mengabaikan atau mengkritik siswa dapat menghambat pendidikan
mereka. Emosi positif memungkinkan individu untuk belajar dan bekerja
dengan kemampuan mereka yang maksimal.
Dr. Elizabeth Hurlock
menyimpulkan hal ini dari studi yang pernah dilakukannya. Ini merupakan
studi yang dilakukan terhadap siswa antara kelas empat sampai enam.
Studi itu dilakukan untuk melihat bahwa pujian, kritik dan sikap tak
acuh guru terhadap kerja siswa bisa berefek pada siswa itu. Untuk
percobaan ini sekelompok siswa diminta menyelesaikan soal matematika
tertentu dalam beberapa hari. Anak-anak yang mendapat nilai tinggi,
dipanggil dan dipuji di depan kelas. Mereka yang dapat nilai buruk,
secara terbuka dimarahi di depan kelas. Sedangkan mereka yang dapat
nilai sangat buruk, diabaikan. Hasilnya, siswa yang dipuji meningkat
dengan 71%, siswa yang dikritik meningkatkan kinerja mereka dengan 19%
dan mereka yang diabaikan meningkat sebesar 5%.
Untuk
membesarkan anak berkarakter, kita juga perlu memberikan ruang
seluas-luasnya untuk mereka untuk berekspresi, dan membuat
kesalahan-kesalahan serta belajar darinya. Juga untuk belajar apa yang
dia senangi. Dan untuk bermain-main serta bersosialisasi, agar dapat
terus belajar keterampilan sosial. Kita juga perlu memberikan ruang
seluas-luasnya bagi mereka untuk aktif dalam berorganisasi, untuk punya
waktu cukup menjalani hobinya, untuk belajar agama dan spiritualitas,
untuk dilibatkan dalam aktivitas-aktivitas menolong orang lain, dan
untuk dibawa ke tempat orang-orang yang kurang beruntung agar punya rasa
syukur dan untuk belajar seni serta mengapresiasi keindahan.
Nah, untungnya,
emosi positif dapat menular. Sehingga, memiliki orangtua, anggota
keluarga, teman, guru, murid, atau siapa saja di dekatnya yang
mengembangkan emosi positif dapat membantu siswa untuk menjadi beremosi
positif dan bekerja dengan kemampuan mereka yang terbaik. Sebaliknya,
jika ada satu saja yang beremosi negatif, hal itu dapat merusak seluruh
suasana emosi positif dalam suatu lingkungan.
Kesimpulan yang lain,
menurut Clifton dan Rath, 99 dari 100 orang lebih suka berada di sekitar
orang-orang yang beremosi positif.Mereka percaya bahwa mereka bekerja
lebih produktif ketika mereka berada di sekitar orang yang beremosi
positif. Memang, seberapa pintar seseorang, hanyalah orang yang memiliki
emosi positif yang akan disukai dan dicintai oleh orang lain. Inilah
modal utama untuk sukses di mana saja, sekaligus untuk hidup bahagia.
Maka, marilah kita ubah paradigma kita dalam mendidik anak, dan memfokuskan proses pendidikan kepada pemenuhan syarat-syarat untuk bahagia, ketimbang sekadar untuk pintar. Marilah kita menekankan proses pendidikan pada penanaman karakter-karakter positif anak. Mari juga menjadi orangtua yang selalu memfasilitasi suasana yang nyaman bagi anak-anak kita, selalu memelihara harga diri mereka, dan selalu member ruang seluas-luanya bagi
anak-anak kita untuk mencoba dan salah. Hanya dari itu semualah,
kreativitas bisa lahir. Dan hanya dengan kreativitas, kita bisa unggul
dan berharap banyak bahwa kebahagiaan hidup akan menanti anak-anak kita.
Karena, jika bukan kebahagiaan, apalagi yang dicari orangtua untuk anak-anaknya?[]
Catatan di Tengah Hiruk Pikuk UN
Oleh Haidar Bagir
Sumber: http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=plong&id=43
semoga bemanfaat ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar